Jun 10 2009
Pengorbanan Pasti Membuahkan hasil
DALAM surah 92 ayat 4-7 Allah SWT memberikan resep bila hamba-Nya ingin berjaya di dunia dan bahagia di akhirat, antara lain harus gemar berinfak, senang bersedekah. Dan Allah SWT memuji orang yang gemar berkorban untuk orang lain, walaupun dia sendiri sedang dalam kesulitan dan juga sangat membutuhkan (Surah 59 : ayat 9).
Kata ahli hikmah: “Hidup ini laksana gema suara. Ucapan yang kita teriakkan itulah yang akan memantul kembali”. Simaklah salah satu contoh.
Menjelang tengah hari seorang bocah pedagang asongan merasa sangat lapar. Dia masuk ke komplek Rumah Dinas. Niatnya ingin meminta makanan kepada siapa saja yang ia jumpai. Eh, tau-tau ia kepergok seorang ibu muda yang membuka pintu. Melihat penampilan si ibu tadi, membuat nyali si bocah menjadi ciut. Hatinya berkata: “Pasti isteri pejabat itu galak.” Maka urunglah niatnya meminta makanan. Ia hanya berani meminta segelas air putih. Ternyata diluar dugaannya. Si Ibu itu memberi segelas besar susu lengkap dengan syrop dan es. Setelah puas menikmatinya, si bocah bertanya: “Maaf bu. Jaa…jaa..di berapa saya harus membayar bu?” Dengan senyum ramah si Ibu itu menjawab: “Nak, kamu tidak perlu membayar. Orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan”. Setelah mengucapkan terima kasih, si bocah itu pamit dan hatinya membisikkan: “Ternyata ibu itu baik hati, dia tidak sombong sekalipun isteri pejabat.”
Beberapa puluh tahun kemudian, si Ibu itu sakit parah. Sedang suaminya telah lama meninggal. Ia hidup bersama seorang anak lelakinya yang masih menganggur dari gaji pensiun suaminya, yang jumlahnya tidak seberapa. Berdasarkan rujukan dari Poliklinik di kotanya, si Ibu itu harus di rawat di Rumah Sakit kota besar. Karena tidak ada pilihan lain, maka setelah menjual barang-barang yang tersisa, si wanita itu dikirim ke Rumah Sakit Umum Pemerintah di ibu kota.
Yang menanganinya adalah dokter Sobur Nurjaman Ali. Setelah membaca nama kota asal serta menatap wajahnya, ia teringat dengan peristiwa ketika ia masih bocah sebagai pedagang asongan itu. Ia pun bertekad untuk merawat si Ibu itu sampai sembuh.
Memasuki bulan ketiga sang ibu benar-benar sembuh. Lalu Dokter Sobur meminta bagian keuangan Rumah Sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna memperoleh persetujuan. Setelah nota penagihan itu disodorkan, maka di sudut kanannya ia tulis : “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.” Tertanda Dr Sobur Nurjaman Ali. Kemudian nota itu disampaikan ke si ibu tadi. Melihat jumlah tagihan tersebut, membuat mata si ibu terbelalak. Tapi hanya sejenak. Sebab setelah membaca tulisan di sudut kanannya, wajahnya langsung ceria dan kedua bola matanya berkaca-kaca. “Alhamdulillah, alhamdulillah, ya Allah,” ucapnya sambil ia mencium nota itu sebagai ungkapan rasa syukur dan harunya. Sebenarnya si Ibu itu sama sekali tidak pernah lagi mengingat peristiwa itu, kalau tidak diingatkan oleh Dokter Sobur. Sebab ketika memberi segelas besar susu kepada si bocah itu, ia tidak berpikir sama sekali balasan yang akan ia peroleh dari si anak tersebut. Tapi Masya Allah. Allah SWT Maha Tahu dan Maha Teliti. Rupanya, bocah pedagang asongan yang pernah diberinya segelas besar susu itu, kini telah menjadi dokter. Dialah Dokter Sobur Nurjaman Ali. (Disarikan dari Buku Half Full – Half Empty oleh Parlindungan Marpaung).
Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas (yang memberi) lebih mulia dari tangan yang dibawah (menerima)”. Sehingga Seorang pengusaha pernah bertutur: “Kalaulah setiap orang di perusahaan mau memberi dan tidak berharap menerima, niscaya perusahaan tersebut akan kuat dan survive!” Maknanya, setiap karyawan tidak ada yang berpikiran negatif untuk menggerogoti perusahaan tempat ia mencari nafkah.
Para psikologi di Eropa telah melakukan serangkaian percobaan “longitudinal” dan menarik kesimpulan bahwa orang yang selalu memberi tanpa berharap balasan ternyata memiliki daya tahan mental yang tinggi, lebih mampu menghadapi cobaan hidup dan terhindar dari penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh stress. Ya dalam bahasa agama itulah namanya ikhlas.
K.G. Lim ketika ditanya: “Apa yang paling membuat kebahagiaan manusia saat ini?” Jawabnya: “yang paling tepat adalah dengan memberi kebahagiaan bagi orang lain”.
Baik pula kita hayati dan laksanakan pesan dari Syahid Hasan Al Banna antara lain kata tokoh Ikhwanul Muslimin itu: “Hendaknya anda selalu aktif, terlatih memberi bantuan kepada siapapun. Agar anda merasakan kebahagiaan dan kesenangan apabila anda dapat memberi bantuan kepada orang lain.”
Pengorbanan ternyata berdampak pada munculnya kesadaran untuk senantiasa memperbaiki tingkah laku ke arah yang lebih baik. Misalnya seorang pemuda yang terlibat narkoba, akhirnya tersadar ketika salah satu orang tuanya meninggal dunia.
Dalam era persaingan yang semakin ketat dimana tingkat individualisme semakin tinggi, pengorbanan menjadi kata yang berat dan melelahkan. Hanya mereka yang memiliki hati nurai yang jernih dan merasakan penggilan Ilahi-lah yang melihat pengorbanan sebagai bagian dari kehidupan kita. Kata “The Inspiring Trainer” Parlindungan Marpaung : “Merelakan diri untuk turun melayani orang lain merupakan langkah pengorbanan yang dapat dirintis”.
Walaupun Pengorbanan yang tulus tidak selalu memperoleh imbalan yang setimpal, bahkan terkadang hingga akhir hayat pun tidak dapat dilihat hasil maupun imbalannya. Pengorbanan merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai manusia, untuk hand in hand dengan manusia. Pengorbanan juga merupakan ungkapan syukur untuk berbagi kepada sesama karena kita telah menerima karunia kasih sayang-Nya dalam setiap sendi kehidupan. Tapi yakinlah bahwa setiap pengorbanan kita tidak akan pernah luput dari penglihatan Allah SWT. Dialah Yang Maha Bijaksana. Wallahualam.**
Comments Off on Pengorbanan Pasti Membuahkan hasil


